Bonek berulah lagi

Menyaksikan beberapa acara berita akhir-akhir ini rasanya kita sebagai warga negara Indonesia turut sedih, marah, dan kesal. Citra sepakbola Indonesia yang sudah jelek, makin jelek dengan adanya kerusuhan di Surabaya.

Aku adalah penggemar sepakbola. Ada acara sepakbola dengan klub tertentu yang bermain, dipastikan aku menonton. Tidak terkecuali dengan sepakbola lokal. Dan aku akan berusaha untuk selalu melihat perkembangan Tim Nasional Indonesia di pentas Dunia.

Bonek RusuhDan sudah menjadi langganan sepertinya, bahwa suporter sepakbola paling berbahaya adalah Bonek Surabaya. Selalu saja membuat masalah. Aku ingat beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih bekerja di Jakarta yang dekat dengan stadion utama Senayan. Sore itu rencananya Persebaya akan bermain entah melawan siapa. Para Bonek dengan tampang seramnya, main comot makanan yang dijual di depan gedung kantor. Dan mereka berulah seperti itu seakan-akan itu kepunyaan mereka.

Faktor apa saja sih yang membuat bonek Surabaya berani menghalalkan berbagai cara untuk menumpahkan kekesalan karena tim mereka tidak lolos ke babak berikutnya?

Berani karena ramai

Hal utama yang paling memacu adanya kerusuhan adalah keberanian untuk berbuat. Dan rasa berani ditimbulkan ketika kita punya banyak teman yang turut serta. Berbekal pengalamanku waktu STM (pada jamanku, STM identik dengan clurit dan tawuran), memang sangat terasa. Ketika jalan beramai-ramai, rasanya kami adalah raja. Apapun yang kami lakukan adalah benar. Bahkan aku yang dulunya adalah pemalu *catet* sampai berani untuk berbuat diluar dugaanku sendiri.

Solusi: Persebaya dilarang ditonton dan dilarang melakukan pertandingan di Surabaya

Tingkat pendidikan

Aku termasuk orang yang percaya, jika taraf pendidikan seseorang berbanding lurus dengan emosional dan karakter seseorang. Orang-orang yang punya pendidikan tinggi biasanya memandang segala sesuatu dengan tolak ukur kegunaan. Semua keputusan harus diperhitungkan masak-masak.

Orang yang punya taraf pendidikan rendah biasanya memandang segala sesuatu untuk saat itu juga. “Besok ya besok, sekarang ya sekarang, emang gw pikirin besok”. Intinya, mereka berfikir langsung tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya.

Solusi: Biasanya juga, yang mempunyai tingkat emosional sangat tinggi adalah orang-orang yang masih dalam taraf beranjak dewasa. Mungkin yang boleh menonton sepakbola HANYA orang-orang yang sudah di atas 23 tahun.

Koordinasi

Mana suporter yang paling berkesan? Arema Malang. Dulu, aremania tidak ada beda dengan para Bonek Surabaya. Sekarang justru menjadi suporter paling sportif. Mereka berkoordinasi dengan sebuah perkumpulan, dan antara satu dengan anggota lain saling kenal. Selain itu mereka juga bisa lebih behave dan tidak cepat panas. Dugaan awal, mungkin karena iklim Malang yang Dingin! Hihihi… :D

Solusi: Persebaya bukannya tanpa organisasi resmi. Tapi dominasi organisasi resmi itu rasanya kurang dan tidak merakyat. Mungkin bisa berdiskusi dengan para Aremania bagaimana mengatasi hal ini. Karena memang mereka punya pengalaman dengan hal ini.

Penyelesaian cara-cara ekstrim

Kadang, jika memang cara-cara di atas masih belum saja bisa meminimalkan aksi bonek Surabaya, maka cara-cara yang sangat tidak wajar juga diperlukan sebagai bahan pertimbangan lain.

1. Persebaya, dan klub sepakbola dari Surabaya DILIBURKAN

Memang, tidak hanya suporter dari Surabaya saja yang berulah. Tapi terbukti, Bonek Surabaya memang rajanya dalam hal berulah. Bahkan, sekitar stadion Tambak Sari meliburkan diri ketika Persebaya bertanding karena takut terjadi apa-apa. Dan, orang-orang Surabaya pun tidak menyenangi aksi mereka.

Wajah persepakbolaan kita rasanya tidak akan pernah habis dengan ulah Bonek. Untuk itu PSSI harus menutup kemungkinan Bonek berulah lagi dengan meliburkan Persebaya dan klub-klub lain dari Surabaya selama beberapa tahun. Yang jelas harus lebih dari 2 atau 3 tahun!

2. Tembak kakinya!

Buat petugas keamanan, mungkin dengan menembakkan peluru karet ke kaki para Bonek rasanya terlalu ekstrim. Tapi memang harus sedikit ekstrim agar mereka jera. Bukan malah ikut-ikut melemparkan batu ke arah mereka. Kalian menjaga keamanan atau mau tawuran?

Banyak orang yang pesimis dengan prestasi persepakbolaan Indonesia, tapi mungkin akulah yang agak condong ke arah optimis ketika tahu Piala Dunia di bawah usia 12 tahun, Indonesia menjadi juara keempat. Bagiku itu menjadi titik awal kebangkitan. Semoga terus berlanjut.

Piala Asia sudah di depan mata, dan harapan kita tentu saja Indonesia bisa berbicara lebih. Walaupun memang agak sulit untuk mencapai juara. Tapi aku cukup optimis dengan prestasi yang bisa dicapai tim Nasional nantinya. Semangat!

Oh, iya, beberapa hari yang lalu, ketika aku melakukan pembicaraan dengan orang Kroasia, sempat terlontar masalah sepakbola. Kira-kira seperti ini dialog singkat itu. Huruf D itu aku dan huruf M bernama Marko.

D: I don’t know about Croatia but only the your football team. I was fans of Davor Suker.
M: Yes, but i’am sorry, i don’t know anything about Indonesia. Specially your football team. Is your football team really exist?
D: *spechless*

Foto oleh detikcom, diambil tanpa ijin

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s